Ini 7 kuliner halal di Medan Sumatera Utara. Foto shutterstock

Ini dia 7 kuliner halal di Medan, Sumatera Utara. Medan dikenal sebagai kota dengan kemajemukan di antara warganya. Sebagai kota terbesar di pulau Sumatera dan di luar pulau Jawa secara keseluruhan, ia menjadi domisili dan melting pot berbagai jenis suku bangsa beserta adatnya, seperti Batak, Melayu, Tionghoa, Jawa, Minangkabau dan sebagainya.

7 Kuliner Halal di Medan

Oleh karenanya, tidak mengherankan bila begitu banyak budaya yang pada prosesnya saling berpadu satu sama lain, tak terkecuali kuliner. Dari percampuran tersebut, muncullah berbagai jenis kuliner unik yang lantas menjadi ikon di kota berjuluk Paris van Sumatera ini, serta senantiasa dicari dan disukai pecinta kuliner.

Ini dia 7 kuliner halal di Medan yang bisa dikunjungi setelah melawat ke Istana Maimun di kota ini.
Ini 7 kuliner halal di Medan. Istana Maimun di ibukota Sumatera Utara. Foto: shutterstock

Hanya saja, karena kemajemukannya itu pula, kadang kala tak semua hidangan khas tersebut tergolong halal bagi kaum muslim. Namun tak perlu khawatir, karena masih ada banyak pilihan kuliner nikmat dan halal yang bisa menjadi alternatif bagi wisatawan muslim kala berkunjung ke ibu kota Sumatera Utara ini. Berikut adalah 7 kuliner halal di Medan yang di antaranya direkomendasikan.

  1. Lontong Kak Lin

Lontong Medan termasuk satu dari 7 kuliner halal di Medan dan terfavorit di kota ini. Biasanya makanan ini jadi favorit warga setempat saat sarapan pagi. Kuah yang terbuat dari santan dan tauco, yang menghasilkan cita rasa gurih dan pedas, berpadu dengan lontong, sayur nangka, wortel, buncis, labu siam, bihun, tahu, tempe, kerupuk dan sebagainya sebagai pelengkap.

Maka tak heran jika banyak warung lontong Medan yang dapat ditemui, utamanya di kala pagi hari. Seperti misalnya Lontong Kak Lin, salah satu warung lontong Medan paling populer dan legendaris. Sudah berdiri sejak 1985, warung ini sejak lama telah menjadi salah satu tempat sarapan terfavorit di Medan.

Lontong Kota Medan shutterstock
Ini 7 kuliner halal di Medan, Sumatera Utara. Foto: shutterstock

Kuah yang kental, gurih dan menyegarkan menjadi ciri khas dari lontong Medan di warung yang terletak di jalan Teuku Cik Ditiro nomor 8m ini. Tak hanya itu, pengunjung juga dapat memilih lauk rendang, ayam, perkedel atau telur rebus. Porsinya pun cukup banyak, sehingga terhitung mengenyangkan untuk sarapan ataupun makan siang.

Selain lontong Medan, warung ini juga menyediakan beberapa menu lain seperti lontong pecal alias racikan lontong sayur dengan menggunakan bumbu pecal atau pecel, nasi gurih, mie sayur dan sebagainya. Harga menu-menu tersebut berkisar dari Rp 16 ribu sampai 70 ribu, tergantung dari kelengkapan dan jenis lauk yang dipilih.

Meski tak sepenuhnya terbilang murah, namun tidak mengurangi animo pengunjung yang tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi tak jarang pula turis mancanegara. Sebagai catatan, warung yang berada di depan SMA Negeri 1 Medan ini biasanya tutup lebih awal saat weekend, yakni jam 14.00 di hari Sabtu dan jam 12.00 pada hari Minggu.

  • Rumah Makan Tabona

Menu halal khas Medan lainnya yang jadi rekomendasi adalah kari ayam dan sapi. Disinyalir terpengaruh dari budaya India, makanan ini tadinya beredar di beberapa daerah Sumatera Utara, seperti Pematang Siantar. Namun, pada perkembangannya muncul pula penjaja makanan ini di sekitar kota Medan.

Seperti contohnya Rumah Makan Tabona, yang sudah berjualan kari di Pematang Siantar sejak 1972, dan akhirnya 10 tahun kemudian pindah ke Medan. Rumah makan yang berlokasi di jalan Mangkubumi nomor 17 itu lantas terus melayani pelanggan hingga kini dan menjadi salah satu ikon kuliner Medan.

Meski hanya menawarkan menu kari ayam dan sapi, namun cita rasa dan keunikannya masih senantiasa digemari dan diburu pecinta kuliner. Dalam semangkok kari, akan berisikan potongan kentang dan daging sapi atau ayam kampung. Kuahnya cenderung encer, dengan paduan cita rasa asin, gurih dan pedas.

Kari kemudian disantap dengan nasi atau bihun. Pengunjung juga bisa memilih pilihan daging yang dipakai, misalnya memilih kari ayam suwir biasa, atau khusus bagian paha saja. Atau jika memesan kari sapi, bisa meminta tambahan bagian jeroan. Bisa juga memesan kari dengan daging ayam dan sapi. Pilihan porsinya pun ada yang standar, maupun yang jumbo.

Sebagai pelengkap, pengunjung akan disediakan acar bawang merah, acar cabe potong, emping dan opak. Kalau masih kurang, bisa juga menambah topping telur bebek. Last but not least, rumah makan ini juga menyediakan dessert puding pandan yang terasa pas sebagai hidangan pencuci mulut.

Memang, harus diakui harga menunya cukup premium. Untuk kari porsi standar harganya Rp 60 ribu, sementara untuk porsi jumbo dibandrol Rp 90 ribu. Namun, cita rasa nikmat yang otentik tetap menjadi alasan mengapa rumah makan yang buka setiap hari dari jam 06.30 hingga 16.30 ini selalu ramai pengunjung, khususnya jam makan siang.

Bihun kari Dok The Sultan Hotel Jakarta
Ini salah satu dari 7 kuliner halal di Medan, salah satunya kari bihun. Foto: dok. The Sultan Hotel Jakarta
  • Sate Memeng

Seperti halnya berbagai daerah lainnya di Tanah Air, Medan juga memiliki kultur kuliner malam yang tak kalah menarik. Salah satu destinasi kuliner malam legendaris di kota ini adalah sate Memeng, yang berlokasi di jalan Irian Barat nomor 2. Sang pendiri warung, H. Muhammad Saimin atau yang akrab dipanggil Memeng, sudah berjualan sate sejak 1945.

Buka setiap hari dari jam 17.00 hingga 23.00, warung sate ini dikenal dengan beberapa keunikan tersendiri. Semisal dari pilihan daging yang disajikan, dimana pengunjung dapat memilih sate dengan potongan daging sapi, kambing atau ayam. Potongan daging yang besar menjadi salah satu ciri khas warung sate ini.

Selain itu, pengunjung juga dapat meminta bagian potongan khusus seperti hati, usus, paru atau dicampur semua. Dan yang tak kalah menarik, pengunjung juga dapat memilih bumbu sate yang dipakai. Ada bumbu kecap, bumbu kacang, serta bumbu khas sate Memeng yang menyerupai bumbu sate Padang.

Keunikan-keunikan tersebut, ditambah dengan cita rasa bumbu yang meresap nikmat, menjadikannya spot kuliner malam Medan yang senantiasa ramai oleh pengunjung. Apalagi dengan harga seporsinya yang terhitung cukup moderat, sekitar Rp 24 ribu. Sebagai catatan, menu mie rebus yang tersedia, dengan topping kentang, taoge dan kerupuk, juga menjadi salah satu favorit pengunjung dengan harga Rp 14 ribu saja.

  • Mie Balap Wahidin

Kuliner unik nan ikonik lainnya di Medan adalah mie balap. Dinamakan demikian karena cara penyajiannya yang unik, dimana sang juru masak akan menumis mie, telur, sayuran dan pilihan daging ayam, sapi atau seafood secara cepat. Bahkan, cara memasaknya terkadang terlihat seperti terburu-buru, seperti sedang ‘balapan’ atau dikejar sesuatu.

Tak terbilang sulit untuk menemukan warung penjual mie balap yang enak di sini, seperti misalnya mie balap Wahidin yang berada di jalan Bambu Runcing nomor 25. Warung mie balap yang sudah eksis berjualan sejak 1990-an ini dikenal dengan gaya memasaknya yang tradisional, dengan menggunakan kayu bakar, agar aromanya lebih terasa khas.

Selain itu, cita rasanya cenderung lebih pedas dengan kuah yang lebih kental. Pengunjung juga dapat memilih jenis mie yang digunakan, baik itu mie kuning, miehun atau bihun, atau mietiaw alias kwetiau. Sebagai topping, pengunjung bisa memesan racikan daging ayam cincang atau ragam lauk seafood. Masakan kemudian disajikan di atas daun pisang.

Sepiring porsi mie balap di warung ini dihargai Rp 19 ribu, untuk semua jenis mie dan lauknya. Harga yang tergolong moderat, ditambah dengan jam buka warung ini dari jam 07.00 hingga 13.00, menandakan bahwa mie balap ini umumnya cukup populer di kalangan warga setempat sebagai opsi sarapan pagi atau santap siang.

agendaIndonesia/audha alief praditra

—–

Yuk bagikan...

Rekomendasi