Ini dia 7 kuliner halal di Medan, lanjutan artikel sebelumnya. Medan di Sumatera Utara dikenal sebagai kota dengan kemajemukan di antara warganya. Sebagai kota terbesar di pulau Sumatera dan di luar pulau Jawa secara keseluruhan, ia menjadi domisili dan melting pot berbagai jenis suku bangsa beserta adatnya, seperti Batak, Melayu, Tionghoa, Jawa, Minangkabau dan sebagainya.
7 Kuliner Halal di Medan
Oleh karenanya, tidak mengherankan bila begitu banyak budaya yang pada prosesnya saling berpadu satu sama lain, tak terkecuali kuliner. Dari percampuran tersebut, muncullah berbagai jenis kuliner unik yang lantas menjadi ikon di kota berjuluk Paris van Sumatera ini, serta senantiasa dicari dan disukai pecinta kuliner.

Hanya saja, karena kemajemukannya itu pula, kadang kala tak semua hidangan khas tersebut tergolong halal bagi kaum muslim. Namun tak perlu khawatir, karena masih banyak pilihan kuliner nikmat dan halal yang bisa menjadi alternatif bagi wisatawan muslim kala berkunjung ke ibu kota Sumatera Utara ini. Berikut adalah beberapa dari 7 kuliner halal di Medan, di antaranya yang direkomendasikan.
5. Rumah Makan Sipirok
Ini salah satu dari 7 kuliner halal di Medan ada di Rumah Makan Sipirok yang berlokasi di jalan Sunggal Nomor 14 ini memiliki makanan unik dan khas yang menjadi ikon tersendiri di skena kuliner Medan, yakni sop iga sapi dan sop sumsum kerbau. Resep ini disinyalir pertama kali muncul dan populer di wilayah Sipirok, sebuah daerah yang terletak di kecamatan Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Sang pemilik rumah makan yang kebetulan berasal dari Sipirok, kemudian menjajakan beragam jenis resep khas daerah tersebut. Sipirok sendiri dikenal sebagai daerah dataran tinggi berhawa sejuk, sehingga makanan hangat seperti sop menjadi pilihan utama warga setempat kala santap siang atau malam.
Sop sumsum lantas menjadi salah satu menu andalan rumah makan ini. Sumsum yang disajikan berasal dari bagian paha dan pinggul kerbau dengan kualitas tinggi. Bagian tersebut kemudian direbus dengan bumbu racikan khas hingga benar-benar meresap. Ketika disajikan, akan disediakan sedotan untuk dapat menyeruput isi sumsumnya.
Sop iga juga menjadi menu andalan lainnya. Kuahnya terasa gurih dan segar, dengan potongan daging iga yang empuk. Selain menu-menu tersebut, beberapa menu lainnya yang juga tak kalah menarik meliputi gulai ikan sale, arsik ikan mas, daging asap, serta pilihan menu sayur seperti tumis bunga pepaya dan daun ubi tumbuk.
Meski harus diakui, harga makanan di sini tak bisa dibilang murah. Seperti harga sop sumsum yang dihargai Rp 93 ribu, atau sop iga yang dibanderol Rp 40 ribu. Pun demikian, cita rasa otentik dari hidangan tersebut tetap saja menarik perhatian banyak pecinta kuliner. Maka jangan heran bila rumah makan yang buka setiap hari dari jam 11.00 sampai 16.00 ini selalu ramai pengunjung saat jam makan siang.
6. Soto Sinar Pagi
Soto, makanan berkuah yang terdapat beragam versinya di berbagai wilayah Tanah Air, tentu sudah tidak asing lagi di kalangan pecinta kuliner. Dan ternyata, Medan juga punya resep dan gaya tersendiri dalam hal soto. Ini satu dari 7 kuliner halal di Medan, Soto versi Medan terlihat berwarna kuning kehijauan, dengan kuah bersantan yang dibuat menggunakan rempah seperti lengkuas, jinten, kunyit dan pala.
Uniknya, dulu Medan justru tidak terlalu dikenal dengan kuliner sotonya. Barulah setelah warung soto bernama Sinar Pagi mempelopori kemunculan soto Medan yang digemari pengunjung, mulai bermunculan warung soto Medan lainnya. Sinar Pagi sendiri awalnya merupakan warung tenda di era 1950-an, sebelum menempati tempatnya kini di jalan Sei Deli nomor 20 sejak 1962.

Usaha keluarga tersebut terus eksis hingga kini, lewat cita rasa kuahnya yang gurih dan kental, serta lauknya yang empuk dan tidak berbau amis. Semangkok soto tersebut berisikan bihun, tomat, telur rebus dan pilihan potongan daging ayam, sapi, atau bagian tubuh seperti usus, paru, dan babat. Pengunjung juga bisa memesan soto dengan isian kombinasi tertentu, hingga campur semuanya.
Seporsi soto tersebut dihargai Rp 35 ribu, apapun pilihan lauk yang dipilih. Meski demikian, disinyalir bahwa soto daging sapi merupakan menu yang paling sering dipesan oleh pengunjung. Sebagai teman makan soto, pengunjung dapat memesan pula perkedel dan rempeyek udang.
Warung soto ini buka dari jam 07.00 sampai 15.30, dan biasanya selalu ramai sejak waktu sarapan hingga makan siang. Untuk memenuhi animo pengunjung yang senantiasa tinggi, kini Sinar Pagi sudah membuka 2 cabang lainnya, yakni di jalan Cik Ditiro dan jalan Mangkubumi nomor 10B.
7. Bihun Bebek Asie
Satu lagi dari 7 kuliner halal di Medan di kala jam sarapan adalah bihun bebek. Makanan yang banyak terpengaruh budaya Tionghoa ini juga dikenal sebagai ak bihun, karena ‘ak’ dalam dialek mereka berarti bebek. Bihun bebek umumnya terdiri atas dua jenis, yaitu bihun bebek yang menggunakan kuah kaldu bebek, serta kuah herbal.
Kuah kaldu bebek terbuat dari air rebusan tulang dan daging bebek yang disajikan, tanpa menggunakan banyak bahan rempah lain. Ketika disajikan, akan ditambahkan sayuran seperti taoge dan sawi. Sementara kuah herbal merupakan resep tradisional yang dibuat dari proses merebus daging bebek dengan tambahan rempah seperti kayu manis, jahe dan sebagainya.
Kuah herbal ini beraroma lebih harum dan punya cita rasa lebih unik, serta diyakini berkhasiat menyehatkan tubuh. Sementara kuah kaldu bebek biasa cenderung lebih ringan rasanya, namun tetap gurih dan segar. Daging bebek yang dimasak berjam-jam juga jadi terasa lembut, tidak alot dan tidak amis.
Di warung bihun bebek Asie, kuah kaldunya dimasak di dalam kuali berukuran besar dengan puluhan ekor bebek di dalamnya. Alhasil, kuahnya jadi begitu terasa nikmat saat diseruput. Cara memasak tradisional nan unik, serta cita rasa otentik di warung bihun bebek yang sudah berjualan sejak 1967 tersebut membuatnya menjadi salah satu ikon kuliner Medan.
Potongan daging bebeknya juga tidak pelit dan besar-besar, mudah untuk disuap dengan sumpit. Pengunjung juga bisa memesan bihun bebek dalam porsi standar maupun jumbo. Sebagai pelengkap, pengunjung akan disediakan acar cabe rawit serta sambal khas buatan mereka yang rasanya perpaduan pedas dan asam.
Memang, harganya seporsi tergolong premium dengan banderol Rp 60 ribu, tapi nyatanya warung yang terletak di jalan Kumango nomor 15 ini selalu dipenuhi pengunjung. Bahkan, meski warung ini buka dari jam 07.00 hingga 12.00, tak jarang mereka sudah ludes terjual sebelum jam tutup. Sebagai catatan, warung ini tutup setiap hari Minggu.
agendaIndonesia/audha alief praditra
—–