Kota Lama Padang bisa dinikmati di sekitar Jembatan Siti Nurbaya.

Kota lama Padang merupakan bagian kuno dari ibukota Sumatera Barat. Dulunya ia menjadi tanda kebesaran Padang sebagai kota perdagangan di zaman kolonialisme Belanda di Indonesia. Sayangnya kini, akibat waktu dan gempuran gempa, sebagian bangunan semakin terbengkalai dan tidak terawat.

Kota Lama Padang

Hampir sepanjang abad ke-19, Padang boleh disebut menjadi kota terbesar di luar Pulau Jawa. Kota ini tumbuh menjadi pusat perdagangan, sekaligus “markas” militer Hindia Belanda, dalam hal ini diwakili oleh kongsi dagang VOC, untuk menaklukkan dan mempertahankan daerah-daerah di Sumatera. Tidak hanya dibangun oleh penguasa saat itu, kota ini juga tumbuh berkat partisipasi pihak swasta yang berasal dari berbagai bangsa, seperti Minangkabau, Belanda, Cina, India, dan Arab.

Sisa-sisa arsitektur masa keemasan zaman itu masih bisa dilihat di kawasan Padang Kota Lama. Lokasinya di sekitar Muara Padang, Jalan Batang Arau, dan Pasar Gadang. Namun akibat gempa besar 7,9 skala Richter, yang terjadi pada 30 September 2009, banyak bangunan rusak dan hanya beberapa yang bisa diperbaiki. Menikmati sisa-sisa kejayaan kolonial kota ini paling tepat dilakukan dari atas Jembatan Siti Nurbaya, yang terbentang di atas Sungai Batang Arau. Dari jembatan ini lanskap Kawasan Padang Kota Lama terlihat lebih jelas.

Kota Lama Padang menyimpan bukti kebesaran kota ini di masa lampau.
Sungai Batang Arau yang membelah kota Padang, Sumatra Barat, Indonesia. Foto: Dok. shutterstock

Jalan Batang Arau terletak di sisi kanan Sungai Batang Arau, dekat muara. Di sana berderet puluhan bangunan tua dan besar menghadap ke jalan serta Sungai Batang Arau. Dulu, bangunan ini digunakan untuk kantor pemerintahan, perbankan, dan kantor dagang. Bangunan yang menonjol adalah Nederlansche Handels-Maatschappij (NHM), Padangsche Spaarbank, De Javansche Bank, dan NV Internatio, yang didirikan sebelum 1920. 

Atap bangunan bergaya arsitektur neo-klasik ini setinggi 24 meter, sementara dindingnya berbentuk gambrel dengan dua cerobong pada bagian puncak. NHM adalah kantor dagang swasta yang juga menjadi tempat bisnis beberapa perusahaan. Kini, kantor itu dijadikan gudang oleh PT Panca Niaga dan tampak tidak terawat.

Namun, ada juga bangunan yang masih terawat, seperti yang sekarang digunakan Bank Indonesia. Dulu, gedung ini dimanfaatkan De Javasche Bank, yang berlokasi di seberang NHM. Dibangun sekitar 1930, bangunan ini berarsitektur tropis dengan kubah kecil di bagian atas mirip atap masjid.

Kota Lama Padang memiliki sejumlah gedung kuno yang merupakan peninggalan Belanda dengan arsiteturnya yang khas.
Sebuah gedung kuno peninggalan Belanda di Padang yang masih sering dikunjungi wisatawan. Foto: Dok. shutterstock

Gedung lain yang menonjol adalah Padangsche Spaarbank, yang didirikan pada 1908. Gedung berlantai dua setinggi 35 meter yang berdiri membelakangi sungai ini bergaya neoklasik. Tampaknya bangunan tersebut terpengaruh arsitektur art-deco dengan gaya mahkota di bagian depan atas bertulisan “1908”. Bangunan ini sempat menjadi Hotel Batang Arau, yang banyak dikunjungi turis asing yang ingin berselancar di Mentawai.

Sejak gempa 2009, gedung itu kosong dan terlihat tidak terawat. Di sebelahnya terdapat gedung NV Internatio, yang dibangun sekitar 1910. Dengan gaya arsitektur neoklasik-modern, yang berkembang sebelum 1920, bangunan tersebut kini dimiliki Badan Usaha Milik Negara Cipta Niaga.

Selain di Jalan Batang Arau, ada banyak bangunan tua di tiga kawasan yang pada abad ke-19 menjadi pasar itu. Posisi pasar tersebut bersebelahan dengan Jalan Batang Arau, yakni Pasar Gadang (Pasar Hilir), Pasar Mudik, dan Pasar Tanah Kongsi. Bahkan, Pasar Gadang sampai pertengahan abad ke-19 menjadi urat nadi perekonomian kota. Pasar Gadang dipengaruhi arsitektur kolonial Belanda bercampur corak tradisional Cina. Sedangkan ukiran ornamen dinding dan atap pada beberapa bangunan di sana pengaruh arsitektur Minangkabau dan Melayu.


Pasar Mudik dibangun pertengahan abad ke-19 oleh perusahaan dagang Badu Ata & Co. Beberapa bangunan menonjol di sini adalah Hotel Nagara dan Gedung Juang 45. Gedung-gedung di Pasar Mudik berupa ruko serangkai. Pengaruh arsitektur Cina, Arab, India, dan Minang terlihat di bagian atapnya.

Adapun Pasar Tanah Kongsi didirikan warga keturunan Tionghoa. Karena itu, selain gaya kolonial Belanda, ada campuran arsitektur tradisional Cina. Gedung yang menonjol di sini adalah kelenteng yang dibangun pada abad ke-17 dan gedung Himpunan Bersatu Teguh (HBT). 

Di Kawasan Padang Kota Lama, ada juga Kelenteng See Hin Kiong, yang dijadikan tempat ibadah sejak 151 tahun lalu. Di luar kawasan ini, gedung-gedung tua juga tersebar di lokasi lain kota itu, seperti Balai Kota Padang, Kapel Susteran St Leo, dan Katedral. Sayangnya, Pemerintah Kota Padang belum memperlihatkan upaya untuk memulihkan Kawasan Padang Kota Lama. Gedung-gedung tua warisan zaman kolonial itu tampak kian telantar. Bisa dikatakan Kawasan Padang Kota Lama ini berada di ujung senja, seperti menunggu kehancuran saja.

TL/agendaIndonesia

****

Yuk bagikan...

Rekomendasi